Selasa, 10 April 2012

MAKALAH HADITS TARBAWI

MAKALAH
HAKIKAT PENDIDIKAN
dalam mata kuliah Hadits Tarbawi









Di Susun Oleh :
Rifki Maulana NIM : 084 103 059




BAB I
PENDAHULUAN


A.‎ Latar Belakang

Pendidikan merupakan sesuatu yang tidak asing bagi kita, terlebih lagi kita ‎sedang berinteraksi aktif di dalamnya. Kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan ‎oleh semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa dalam proses menuju ‎kedewasaannya, setiap manusia melalui tahap pendidikan ini. ‎
Agama Islam merupakan agama yang sempurna, agama yang dibawa Nabi ‎Muammad ini diajarkan melalui mukjizat yang berupa teks al-Qur’an, al-Qur’an ‎merupakan teks rujukan dan pedoman bagi ummatnya dalam seluruh aspek ‎kehidupan termasuk pendidikan. Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang ‎tidak menyebutkan makna secara jelas, penjelasan dari ayat tersebut ‎diperoleh melalui penjelasan Hadits Nabi yang kemudian disebut sebagai teks utama ‎setelah al-Qur’an. ‎
Sebenarnya agama Islam sangat mengutamakan proses pendidikan, hal ‎tersebut dapat dilihat dari lima ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi ‎Muhammad SAW dalam surat al-‘Alaq. Banyak juga hadits yang menjelaskan tetang ‎pentingnya pendidikan bagi manusia. Namun sebagai dua teks utama, ummat Islam ‎seringkali lupa akan ajaran-ajaran yang dijelasknnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hadits

القُرْأن خَلَقَهُ كَا نَ قَالَتْ رَسُوْ الله صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قِ أَخْلاَ عن سُأِلَتْ ئشة عا عَنْ

B. Terjemahan Hadits
Artinya: ‎“Aisyah Ra ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, maka dia menjawab akhlak ‎Rasulullah SAW adalah al-Qur’an”

C. Biografi Perawi Hadits
Rasulullah saw adalah penutup para nabi dan rasul. Setelah beliau wafat, wahyu ilahi tidak pernah lagi turun ke bumi. Risalah Tuhan telah disempurnakan oleh Rasulullah saww. Ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah agama terakhir dari rangkaian agama-agama samawi. Umat islam adalah umat terbaik. Begitu pula ajaran dan syariatnya. Hal ini jelas diketahui oleh Allah dan RasulNya, keadilan dan kasih sayangNya menuntut keberadaan islam yang akan terus lestari hingga kiamat ini harus dijaga oleh manusia-manusia yang pantas dan tepat. Allah swt tak akan membiarkan umat islam tanpa pemimpin yang ditunjuk langsung olehNya.akal pun menghukumi bahwa islam (agama tersempurna) harus dipimpin oleh orang-orang yang juga sempurna, dari segi apapun. Baik ilmu, akhlak, ibadah, dst.
Imam Hasan askari as lahir pada tanggal 10 rabiul akhir tahun 232 h di Madinah. Ayah beliau adalah imam Ali bin Muhammad al-hadi as. Sedangkan ibu beliau bernama Sulail, seorang wanita yang sholehah. Beliau adalah imam ke-11 dari mata rantai emas imam-imam Ahlulbayt. Beliau memiliki banyak laqab (gelar) dan yang paling terkenal adalah al-askari. Karena beliau tinggal di Samarra’ yang sebutan lainnya adalah askar. Disamping laqab al-askari, beliau memiliki laqab-laqab yang lain, seperti : ar-rafiq; az-zakiy; al-khalis; al-amin; al-fadhil; dan masih banyak lagi. Gelar-gelar diatas memang sangat tepat disematkan pada beliau as. Mengingat betapa tingginya maqam beliau disisi Allah swt. Beliau dikunyahkan (dipanggil dengan nama bapak atau anak) sebagai Ibn Ridha (putra ar-ridha as). Namun kunyah Abu Muhammad-lah yang khusus untuk beliau. Beliau menjadi imam pada umur 22 tahun. Beliau as pergi meninggalkan dunia pada tanggal 8 rabiul awwal tahun 260 h, saat masih berusia 28 tahun. Beliau dikebumikan disamping kuburan ayahanda tercinta, di Samarra’, Irak. Sejarah mencatat, beliau tak memiliki anak selain Imam Mahdi al-muntadzar afs, yang merupakan buah hati beliau dan istri beliau, ibunda Narjis.

Beliau tumbuh dan berkembang dalam asuhan manusia-manusia agung yang selalu memancarkan cahaya ilahi. Beliau besar dalam rumah yang selalu menjadi buah bibir malaikat. Beliau semenjak kecil selalu menimba ilmu langsung dari muaranya, yaitu ayah beliau sendiri, imam Hadi as. Hasan muda jauh mengungguli anak-anak muda dimasanya. Ibadahnya, akhlaknya, ilmunya, takwanya dan kedermawanannya jauh melampaui umat islam dimasa itu. Sedari kecil, beliau telah mengenal Allah dengan sebaik-baik pengetahuan. Keindahan akhlak Rasul , ketinggian ilmu Amirul mukminin dan keberanian Sayyidus syuhada telah terpatri dalam jiwa beliau. Meski rezim tirani pada masa itu begitu brutal dan membabi buta dalam menyiksa kaum Alawiyyin, Imam Hasan as dengan tegar berdiri dan dengan tegas berteriak menantang ketidak-adilan. Kehidupan beliau yang singkat mampu menghadirkan rasa takut yang sangat pada dinasti Abbasiah yang haus darah. Beliau sepanjang hidupnya terus diteror para musuh Allah. Mereka tahu bahwa beliau adalah ayah dari imam yang dinanti-nanti kaum muslimin yang menurut Rasul, akan menggulingkan setiap kejahatan dan meluluh-lantahkan rezin-rezim pro setan. Oleh Karena itu, mereka tak henti-hentinya mengawasi dan mengintimidasi imam. Dengan tujuan, imam Mahdi afs tak akan bisa lahir kedunia ini. Seakan mereka lupa bahwa janji Allah dan rasulNya adalah pasti.
Beliau hidup dalam pengawasan dan mata-mata musuh yang selalu mengincar nyawa beliau. Beliau menghabiskan sebagian hidupnya dalam penjara. Namun, seakan penjara adalah taman bunga. Beliau yang sangat tekun beribadah malah mampu menyadarkan dua preman yang hidup bersama beliau dalam penjara. Beliau sepanjang hidupnya tak pernah meninggalkan jalan kebenaran, meski nyawa beliau tak pernah lepas dari ancaman. Beliau laksana pohon tinggi yang menjulang. Semua orang bisa berteduh dibawahnya. Situasi politik pada masa beliau sangatlah menyulitkan. Namun beliau tak pernah menyerah. Beliau selalu menggunakan setiap kesempatan dengan baik. Beliau tetap tegar dalam menjaga islam, mengayomi masyarakat, membarantas bid’ah-bid’ah hingga membina pribadi-pribadi yang bisa diandalkan. Imam hidup semasa dengan diktator-diktator bengis Abbasi, sebut saja Mu’taz, Muhtadi dan Mu’tamad. Merdka tak pernah luput untuk menebarkan kekejaman, menyulutkan api permusuhan dan bertindak semena-mena terhadap imam dan pengikut beliau. Telah berulang-ulang mereka mencoba untuk membunuh imam. Bahkan Mu’tamad harus meracuni imam karena sudah tak sanggup lagi menerima kenyataan bahwa imam begitu dicintai dan dihormati seluruh kaum muslimin, baik pengikut beliau sendiri maupun muslimin yang lainnya. Beliau akhirnya mereguk cawan syahadah dalam usia yang belum genap tiga puluh tahun. Salam sejahtera atasnya dihari kelahirannya, disaat kesyahidannya dan dihari ketika beliau dibangkitkan kembali.
Diantara wasiat beliau : ‘Aku wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa kepada Allah, wara’ dalam agama kalian, bekerja keras karena Allah, jujur dalam bicara, tunaikan amanat kepada orang yang menyerahi amanat pada kalian, entah dia itu orang baik atau orang jahat, panjangkan sujud dalam sholat, berbaiknalah dengan tetangga karena dengan membawa inilah Nabi Muhammad saww diutus. Bersilaturrahmilah dengan kerabat-kerabat kalian, datangi jenazah mereka, besuklah mereka yang sakit dan tunaikanlah hak-hak mereka. Karena, barangsiapa diantara kalian yang wara’ dalam agamanya, jujur dalam bicaranya, menunaikan amanat, memperbagus akhlaknya terhadap orang-orang, lalu dikatakan ‘ini orang syiah!’ maka hal ini menggembirakan aku! Bertakwalah kepada Allah. Jadilah kalian hiasan bagi kami dan janganlah menodai kami. Tariklah semua cinta kepada kami dan semua yang buruk dari kami. Karena semua kebaikan yang dinisbatkan kepada kami, memang kamilah pemiliknya. Semantara, keburukan yang dinisbatkan kepada kami, kami sama sekali tidaklah demikian. Pada kami kebenaran dalam kitabullah. Kami mempunyai kedekatan dengan Rasulullah dan kami disucikan Allah, yang tidak diklaim oleh seorang pun selain kami melainkan dia pendusta. Perbanyaklah dzikir kepada Allah, membaca al-qur’an dan bershalawat kepada Nabi saww, pahalanya sepuluh kebaikan. Peliharalah wasiatku ini! Selamat tinggal, aku ucapkan salam kepada kalian’ (Tuhaful ‘uqul, hal 487-488)

D. Pemahaman dan Analisa Hadits
Al-Qur’an merupakan sumber nilai yang absolute dan utuh, didalamnya ‎mencakup perbendaharaan yang luas dan besar bagi pengembangan kebudayaan ‎ummat manusia dan merupakan sumber pendidikan yang terlengkap. Ia ‎merupakan pedoman normatif-teoritis bagi pelaksanaan pendidikan Islam. ‎Oleh sebab itu Rasulullah SAW memberikan contoh dan suri tauladan ‎berdasarkan al-Qur’an ‎
Dalam dataran pendidikan Islam, sunnah Nabi mempunyai dua fungsi ‎yaitu: ‎
1. Menjelaskan system pendidikan Islam yang tepat di dalamnya.‎
2. ‎Menyimpulkan metode pendidikan dan kehidupan Rasulullah SAW ‎bersama sahabat, perlakuannya kepada anak-anak, dan pendidikan ‎keimanan yang pernah dilakukan. ‎
Kesemuanya tersebut dapat dilihat dari bagaimana cara Nabi melakukan ‎proses belajar mengajar, metode yang digunakan sehingga dengan cepat para ‎sahabat mampu menyerap apa yang diajarkan, dan lain sebaginya yang ‎kesemuanya terpancar dari satu figur uswah hasanah yang dibimbing langsung ‎oleh Allah.
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of value dan ‎transfer of culture serta transfer of religius yang semoga diarahkan pada upaya ‎untuk memanusiakan manusia. Dalam konteks ajaran Islam hakikat pendidikan ‎adalah mengembalikan nilai-nilai Ilahiyah pada manusia (fitrah) dengan ‎bimbingan Al-Quran dan as-Sunnah (Hadits) sehingga menjadi manusia ‎berakhlakul karimah (insan kamil). ‎
Secara semantik, pendidikan menunjukkan pada suatu kegiatan atau ‎proses yang berhubungan dengan pembinaan yang dilakukan seseorang kepada ‎orang lain. Pengertian tersebut belum menunjukkan adanya program, sistem, dan ‎metode yang lazimnya digunakan dalam melakukan pendidikan atau pengajaran.‎ Dalam term pendidikan Islam, sering dijumpai kata dalam bahasa arab ‎tarbiyah untuk menggantikan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia. Selain ‎kata tarbiyah terdapat pula kata ta’lim (pengajaran) dan ta’dib yang ada ‎hubungannya dengan kata adab yang berarti sopan santun.‎
Ketiga terma tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, ‎setiap terma memiliki perbedaan, baik secara tekstual maupun secara kontekstual. ‎Oleh karena itu dibawah ini akan diuraikan secara singkat masing-masing term ‎pendidikan tersebut.‎
1. ‎at-Tarbiyah
Istilah at-Tarbiyah berasal dari kara rabb, yang berarti:‎
a. bertambah dan berkembang (‎رَبّا- يَرَ بُّو- تَرْ بِيّة )‎
b. tumbuh dan berkembang (‎رَبّى- يَرَ بى- تَرْ بِيّة ‎ )‎
c. memperbaiki, menguasai, memelihara, merawat, memperindah, mengatur, ‎dan menjaga kelestariannya (‎رَب- يَرَ ب- تَرْ بِيّة ‎)‎
Dari pengertian tersebut, dalam konteks yang luas pengertian pendidikan ‎Islam terkandung dalam term al-Tarbiyah yang meliputi empat unsur, yaitu:
1) ‎unsur memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa.
2) mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3) ‎mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan. Dan
4) melaksanakan ‎pendidikan secara lengkap.‎
Jadi istilah at-Tarbiyah memberikan pengertian mencakup semua aspek ‎pendidikan, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tidak hanya ‎mencakup aspek jasmaniah tetapi juga mencakup aspek rohaniah secara ‎harmonis. ‎
2. ‎al-Ta’lim
Kata yang kedua ini bersumber dari kata ‘allama yang berarti pengajaran ‎yang bersifat pemberian, atau penyampaian, pengertian, pengetahuan, dan ‎keterampilan. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 31 disebutkan :‎

وَ عَلَّم اَ دَمَ ا لأَ سْمَا ءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَ ضَهُمْ عَلَى ا لْمَلَعِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِعُوْ نِيْ بِاَ سْماَ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صَدِ قِيْنَ

Artinya:‎
‎“dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) ‎seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu ‎berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu ‎mamang benar orang-orang yang benar!"‎
Bila dilihat dari batasan pengertian yang ditawarkan dari kata ta’lim ‎‎(allama) pada ayat di atas, terlihat pengertian pendidikan yang terlalu sempit. ‎Pengertiannya hanya sebatas proses pentransferan seperangkat ilmu pengetahuan ‎atau nilai antara manusia. Ia hanya dituntut untuk menguasai ilmu atau nilai yang ‎ditranfer secara kognitif dan psikomotorik, akan tetapi tidak dituntut pada ‎domain afektif. ‎
3. al-Ta’dib
Secara bahasa, kata al-ta’dib merupakan masdar dari kata “addaba” yang ‎berarti:‎
a. Ta’dib, berasal dari kata dasar “aduba – ya’dubu yang bererti ‎melatih, mendisiplinkan diri untuk berperilaku yang baik dan sopan ‎santun.‎
b. Berasal dari kata “adaba – ya’dibu” yang berarti mengadakan pesta ‎atau perjamuan yang berbuat dan berperilaku sopan.‎
c. Kata “addaba” sebagai bentuk kata kerja “ta’dib” mengandung ‎pengertian mendidik, melatih, memperbaiki, mendisiplin da member ‎tindakan.‎ Dalam hadist Nabi disebutkan:
(رواه علي عن العكسري ‎) رَ بّي تَأ دِ يبِى فَأَ حسَنِ أ دَّ بَنِي
Artinya:‎
‎“Tuhan telah mendidikku, maka ia sempurnakan pendidikanku” ( HR. ‎al-Askary dari Ali Ra)‎
Dari pengertian dan hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata ‎‎“ta’dib” mengandung pengertian usaha untuk menciptakan situasi dan kondisi ‎sedemikian rupa, sehingga anak didik terdorong dan tergerak jiwa dan jiwanya ‎untuk berperilaku dan bersifat sopan santun yang baik sesuai dengan yang ‎diharapkan.‎ ‎ Orientasi kata al-ta’dib lebih terfokus pada upaya pembentukan ‎pribadi muslim yang berakhlak mulia.
Allah SWT menciptakan menusia telah dibekali dengan potensi pada ‎setiap individu, dengan potensi itulah seseorang dapat menjalankan kehidupan ‎dengan penuh ketaatan dan penghambaan kepada-Nya. Dalam hadits diatas, ‎Rasulullah memberikan informasi tentang potensi-potensi yang ditetapkan ‎kepada manusia, berupa fitrah. ‎
Fitrah sebagai potensi dasar manusia yang dibawa sejak lahir merupakan ‎pemahaman konseptual dari surat ar-Rum ayat 30:‎
فَاَ قِمْ وَجْهَكَ لِلدِّ يْنِ حَنِيْفاً. فِطْرَ تَ اللهِ ا لَّتِيْ فَطَرَ ا لنَّا سَ عَلَيْهاَ. لاَ تَبْدِ يْلَ لِخَلْقِ اللهِ , ذَلِكَ ا لدِّ يْنُ ا لْقَيّمُ , وَلَكِنَّ اَكْثَرَ ا لنَّا سِ لاَ يَعْلَمُوْ نَ
( ٣٠ (‏
Artinya:‎
‎“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah ‎atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada ‎peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan ‎manusia tidak mengetahui”‎
Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa fitrah yang dimaksud ‎adalah “al-dinu al-Qayyim” agama yang lurus. Akan tetapi, potensi tersebut juga ‎dapat dipengaruhi oleh faktor dari luar baik berupa pendidikan ataupun ‎lingkungan yang dalam hadits diatas digambarkan dengan faktor orang tua.‎
Sebagai potensi dasar, maka fitrah itu cenderung kepada potensi-potensi ‎psikologis yang perlu untuk dikembangkan ke arah yang benar. Diantara potensi ‎psokologis tersebut adalah:‎
1) ‎Beriman kepada Allah SWT
2) ‎Kecenderungan untuk menerima kebenaran, kebaikan, termasuk ‎untuk menerima pendidikan dan pengajaran
3) ‎Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang berwujud ‎daya fikir
4) ‎Dorongan biologis yang berupa syahwat dan tabiat
5) ‎Kekuatan-kekuatan lain dan sifat-sifat manusia yang dapat ‎dikembangkan dan dapat disempurnakan
Ibn taimiyah dalam menginterprestasikan fitrah yang dibawa oleh ‎manusia adakalanya:‎
1. Fitrah al Ghazirah, yaitu fitrah inheren dalam diri manusia yang ‎memberikan daya akal (Quwwah al-aql), yang berguna untuk mengembangkan ‎potensi dasar manusia.‎
2. Fitrah al-Munazzal, yaitu fitrah luar yang masuk pada diri ‎manusia. Fitrah ini berupa petunjuk al-Qur’an dan as-sunnah yang digunakan ‎sebagai kendali dan pembimbing bagi fitrah al-Gazirah.‎
Dapat disimpulkan bahwa fitrah yang berupa pembawaan pada diri ‎manusi merupakan potensi-potensi dasar manusia yang memiliki sifat kebaikan ‎dan kesucian untuk menerima rangsangan (pengaruh) dari luar menuju pada ‎kesempurnaan dan kebenaran. ‎
Namun, fitrah manusia bukanlah satu-satunya potensi yang dapat ‎mencetak manusia sesuai dengan fungsinya. Ada juga potensi lain yang menjadi ‎kebalikann dari fitrah ini, yaitu nafs yang mempunyai kecenderungan pada ‎keburukan dan kejahatan. ‎Untuk itu fitrah harus tetap dikembangkan secara wajar dengan fitrah al-‎Munazzal yang dijiwai oleh wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah), sehingga dapat ‎mengarahkan perkembangan seorang anak kepada jalur yang benar secara ‎kaamilah. ‎Oleh karena betapa pentingnya pendidikan untuk mengarahkan ‎perkembangan manusia ke arah yang benar (ad-din al-Qayyim), hendaklah suatu ‎pendidikan mulai ditanamkan sejak dini.
Melatih dan membiasakan suatu perbuatan baik, merupakan metode yang ‎amat tepat dilakukan pada masa usia anak-anak. Karena dari metode pembiasaan ‎inilah akan terbentuknya jiwa dan kepribadian yang baik. Dalam hadits lain ‎disebutkan: ‎
عَنْ اَ نَسْ بِنْ مَلِكْ عن رَسُوْ الله صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم , قَلَ أَ كْرَ مُوْ أَ وْ لاَدَ كُمْ وَأ حْسَنُوْ أدْ بَهُمْ
( رواه ابن ما جه )‎
Artinya: ‎
‎“Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah SAW bersabda: Muliakanlah anak-‎anakmu dan perbaikilah adab mereka.” (HR. Ibn Majah)‎
Potensi-potensi yang dibawa oleh manusia sejak lahir sangatlah rentan ‎akan pengaruh-pengaruh dari luar, oleh sebab sejak usia dini fitrah tersebut harus ‎diarahkan dan dibimbing ke arah yang benar dengan pendidikan kepribadian ‎‎(ahlak) dan pendidikan agama. Dalam hal ini orang tua adalah faktor yang sangat ‎berpengaruh, karena orang tua adalah orang pertama kali yang bersentuhan ‎dengan seorang anak. ‎
Sejak usia dini, seorang anak mulai mengenal dunia di luar dirinya secara ‎objektif disertai pengahayatan secara subjektif. Mulai adanya pengenalan pada ‎Aku sendiri dengan bantuan bahasa dan kata-kata. Nabi SAW mengingatkan ‎agar orag tua mengajarkan dan mendidik anak dengan beberapa hal diantaranya ‎adalah adab, shalat, kecintaan dengan Nabi dan al-Qur’an, serta ‎mengembangkan minat dan bakat.‎
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang berfikir bagaimana menjalani kehidupan dunia ini dalam rangka mempertahankan hidup dalam hidup dan penghidupan manusia yang mengemban tugas dari Sang Kholiq untuk beribadah.
Manusia sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah SWT dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.
Berdasarkan undang-undang Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab I, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas/pendekatan manusiawi/humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik–non fisik : emosi–intelektual ; kognitif–afektif psikomotor), sedangkan pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia yang potensial, (mempunyai kemampuan kelebihan-kekurangannya dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang – hangat – kekeluargaan – terbuka – objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga.
Melalui penerapan pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta dunia kehidupan dari segala liku dan seginya. Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :
1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka, melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.
3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri).
4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.
Dengan demikian proses pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral dan agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, kini dan masa depan.
Untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani yang diridhoi Allah swt. tentunya memerlukan paradigma baru. Paradigma lama tidak memadai lagi bahkan mungkin sudah tidak layak lagi digunakan. Suatu masyarakat yang religius dan demokratis tentunya memerlukan berbagai praksis pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang religius dan demokratis pula. Masyarakat yang tertutup, yang sentralistik, yang mematikan inisiatif berfikir manusia dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama Islam bukanlah merupakan pendidikan yang kita inginkan. Pada dasarnya paradigma pendidikan nasional yang baru harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global dengan tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah dan Syariatnya. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu, demokratis dan religius yang sesuai dengan kehendaknya sebagai wujud nyata fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi.
Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan sekurelistik baik didalam manajemen maupun didalam penyusunan kurikulum yang kering dari nilai-nilai moral dan agama harus diubah dan disesuaikan kepada tuntutan pendidikan yang demokratis dan religius. Demikian pula di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, maka proses pendidikan haruslah mampu mengembangkan kemampuan untuk berkompetensi didalam kerja sama, mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu meningkatkan kualitas. Demikian pula paradigma pendidikan baru bukanlah mematikan kebhinekaan malahan mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan mayarakat dan bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Arifuddin Arif, 2008, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kultural
Abū ‘Abd Allah Ibn Muhammad ibn Yazīd Ibn Mājah, 2004, Sunan IbnMājah, Juz IV, ‎Beirut: Dar al-Fikr
Depag RI, 2007, Al-Qur’an dan Terjemahnya, al-Hikmah, Bandung: CV Penerbit ‎Diponegoro
rangkuman dari buku : Teladan abadi Hasan Askari, terbitan Al-huda, 2009
Abū ‘Abd Allah Muhammad bin Ismā’īl al-Bukhāriy, 2006, Al-Jāmi’ Shahīh al-‎Bukhāriy, Juz I, Beirut: Dār al-Fikri,‎
Kitab Al-Jawahir Wad-Durar fi Tarjamah A1-Hafizh Ibn Hajar karya As-Sakhawi, Muqaddimah Bulughul Maram Darul Fikr
Baihaqiy, t.t, Syu’bat al-Iman, Juz XVIII, dalam Maktabah as-Syamilah

2 komentar:

  1. minta izin tuk copy... akhi... terima kasih banyak,,,

    BalasHapus
  2. copas y, jangan lupa kunjungi balik www.indahnyazikrullah.blogspot.com

    BalasHapus